Licolize Communications - Mitra Penerjemahan dan Pelokalan Tepercaya Anda 4.000+ Proyek | 8 Juta+ Kata Diterjemahkan Penerjemahan, Pengeditan Dan Proofreading | MTPE | Subtitling | Voice Over Licolize Communications - Mitra Penerjemahan dan Pelokalan Tepercaya Anda 4.000+ Proyek | 8 Juta+ Kata Diterjemahkan Penerjemahan, Pengeditan Dan Proofreading | MTPE | Subtitling | Voice Over

Peran MTPE dalam Meningkatkan Hasil Terjemahan Mesin

AI kini bisa menerjemahkan ribuan kata dalam hitungan menit.

Terdengar mengesankan, bukan?

Tapi ada satu hal yang perlu diingat: cepat tidak selalu berarti akurat, dan akurat belum tentu natural.

Hal ini dikarenakan hasil terjemahan machine translation mungkin terlihat baik dan sempurna pada pandangan pertama. Namun, bisa saja ada konteks yang terlewat, terminologi yang kurang tepat, atau kalimat yang terdengar kaku dan tidak natural bagi pembaca bahasa target.

Bagi bisnis yang berkomunikasi dengan audiens internasional, masalah kecil seperti ini bisa menimbulkan kesalahan pemahaman konsumen dan berdampak cukup besar.

Lalu, di mana peran penerjemah manusia?

Jawabannya dapat ditemukan dalam proses yang semakin banyak digunakan dalam industri penerjemahan saat ini, yaitu Machine Translation Post-Editing (MTPE).

Jadi, Apa Itu MTPE?

MTPE atau Machine Translation Post-Editing adalah proses meninjau dan memperbaiki hasil terjemahan yang dibuat oleh mesin. Dengan demikian, penerjemah tidak selalu harus menerjemahkan seluruh teks dari awal. Mereka dapat menggunakan hasil machine translation sebagai titik awal, kemudian meninjau dan menyempurnakannya.

 

Secara sederhana, prosesnya dapat digambarkan seperti ini:

Pendekatan ini menggabungkan dua keunggulan yang berbeda.

Mesin dapat bekerja dengan cepat dan menangani teks dalam jumlah besar. Sementara itu, penerjemah manusia membawa sesuatu yang masih sulit sepenuhnya dilakukan oleh teknologi, seperti pemahaman konteks dan kemampuan mengambil keputusan.

Di sinilah human review menjadi penting.

Ketika “Benar” Saja Tidak Cukup. Penerjemahan bukan sekadar mencari kata yang setara dalam bahasa lain. Hal ini menjadi semakin penting dalam konten bisnis, terutama ketika sebuah perusahaan menerjemahkan materi marketing untuk audiens internasional. Bayangkan sebuah brand menggunakan slogan “Taste the difference.” Jika diterjemahkan secara literal, slogan tersebut dapat menjadi “Rasakan perbedaannya.” Secara tata bahasa, terjemahan ini tidak salah. Namun, apakah “Rasakan perbedaannya” memiliki daya tarik dan memberikan kesan yang sama kepada konsumen Indonesia? Belum tentu.

Dalam konteks marketing, sebuah slogan tidak hanya menyampaikan informasi. Slogan juga membawa brand message, tone, dan daya persuasi. Karena itu, penerjemah perlu melihat lebih dari sekadar arti setiap kata. Misalnya, “Taste the difference” dapat diadaptasi menjadi “Nikmati cita rasa yang berbeda” atau “Rasakan cita rasa istimewa”, tergantung pada positioning, karakter, dan target audience dari brand tersebut. Di sinilah penerjemah manusia berperan. Mereka mempertimbangkan apakah pilihan kata yang digunakan sudah terdengar natural, apakah pesan yang ingin disampaikan tetap terasa kuat, dan apakah hasil terjemahan sesuai dengan cara brand tersebut berkomunikasi dengan konsumennya.

Hal yang sama berlaku pada berbagai jenis konten bisnis lainnya, seperti tagline, product descriptions, advertisements, humor, dan cultural references. Sebuah terjemahan dapat benar secara tata bahasa, tetapi belum tentu berhasil menyampaikan pesan dan kesan yang diinginkan oleh brand. Oleh karena itu, human review tidak hanya diperlukan untuk menemukan kesalahan dalam hasil machine translation. Lebih dari itu, penerjemah manusia memastikan bahwa hasil terjemahan tetap akurat secara makna, natural dalam bahasa target, dan sesuai dengan tujuan komunikasi.

Lalu, apa yang sebenarnya dilakukan penerjemah manusia?

Human review bukan sekadar mencari typo atau kesalahan grammar. Penerjemah perlu mengevaluasi apakah hasil machine translation benar-benar menyampaikan pesan yang dimaksud, terdengar natural bagi target audience, dan memenuhi standar kualitas yang dibutuhkan. Secara garis besar, hal-hal penting yang dilakukan penerjemah manusia adalah sebagai berikut:

1. Memastikan Makna

Sebuah kata dapat memiliki lebih dari satu arti. Mesin dapat memilih arti yang salah ketika konteksnya tidak cukup jelas.

Penerjemah manusia membandingkan hasil terjemahan dengan teks sumber untuk memastikan bahwa pesan yang dimaksud benar-benar tersampaikan.

2. Membuat Bahasa Lebih Natural

Pernah membaca kalimat yang secara grammar benar, tetapi terasa seperti “bahasa terjemahan”?

Nah, di sinilah peran human translator.

Penerjemah dapat menyusun ulang kalimat, mengganti pilihan kata, dan menyesuaikan ekspresi agar hasil akhirnya terdengar seperti bahasa yang memang digunakan oleh target audience. Karena terjemahan yang baik seharusnya tidak terasa seperti terjemahan.

3. Menjaga Terminology Tetap Konsisten

Bayangkan membaca dokumen teknis dan menemukan istilah yang sama diterjemahkan secara berbeda-beda di setiap halaman.

Membingungkan, bukan?

Penerjemah manusia dapat menggunakan glossary, terminology database, dan preferensi dari klien untuk memastikan istilah penting tetap akurat dan konsisten.

4. Mempertahankan Tone dan Brand Voice

Dokumen hukum tentu tidak seharusnya terdengar seperti caption media sosial. Begitu juga dengan luxury brand yang mungkin membutuhkan bahasa yang lebih elegan dibandingkan brand yang ingin terlihat santai dan playful. Penerjemah tidak hanya menerjemahkan informasi. Mereka juga perlu mempertahankan tone, style, dan brand voice agar pesan tetap terasa seperti berasal dari brand yang sama.

5. Mempertimbangkan Budaya

Hal ini menjadi semakin penting ketika translation masuk ke ranah localization. Sebuah joke, idiom, referensi budaya, atau bahkan cara menyampaikan sesuatu yang berhasil di satu negara belum tentu memiliki efek yang sama di negara lain. Human translator dapat mengenali perbedaan tersebut dan menyesuaikan konten agar terasa lebih natural dan relevan bagi target audience.

MTPE Bukan Sekadar “Memperbaiki Kesalahan AI”

Mungkin mudah untuk menganggap MTPE sebagai proses sederhana: AI menerjemahkan, manusia memperbaiki.

Namun, prosesnya tidak sesederhana itu.

Seorang post-editor perlu memahami teks sumber, target audience, tujuan konten, dan standar kualitas yang dibutuhkan. Ada kalimat yang mungkin hanya membutuhkan sedikit perubahan. Namun, ada juga hasil machine translation yang harus ditulis ulang secara menyeluruh karena tidak menyampaikan pesan dengan tepat atau terdengar terlalu kaku. Dengan kata lain, mesin memberikan starting point, tetapi penerjemah menentukan hasil akhirnya. Karena itu, MTPE bukan berarti menghilangkan peran penerjemah. Justru, teknologi dapat mengubah cara keahlian penerjemah digunakan.

Jadi, apakah penerjemah masih dibutuhkan di era AI?

Tentu. Hanya saja, perannya terus berkembang.

AI dapat membantu penerjemah bekerja lebih cepat. AI dapat memproses teks dalam jumlah besar, menangani konten repetitif, dan memberikan hasil terjemahan awal dalam waktu singkat. Sementara itu, penerjemah manusia membawa sisi lain yang tidak kalah penting, seperti context, culture, creativity, linguistic judgment, dan quality control. Perubahan ini menunjukkan bahwa peran penerjemah tidak selalu harus dilihat sebagai pihak yang berhadapan dengan teknologi. Sebaliknya, penerjemah dapat menjadi pihak yang mengarahkan dan mengontrol bagaimana teknologi digunakan untuk menghasilkan terjemahan yang berkualitas.

Dengan semakin berkembangnya AI, kemampuan penerjemah juga dapat berkembang dari sekadar menerjemahkan teks menjadi mengevaluasi, mengedit, dan memastikan kualitas hasil machine translation. Inilah mengapa keterampilan seperti linguistic judgment, cultural awareness, terminology management, dan quality control menjadi semakin relevan. Oleh karena itu, masa depan translation tidak harus dilihat sebagai persaingan antara penerjemahan manusia dan AI, melainkan kolaborasi antara penerjemahan manusia dengan Ai. Mesin tidak harus menggantikan penerjemah. Sebaliknya, mesin dapat membantu penerjemah mengurangi pekerjaan yang repetitif sehingga mereka dapat lebih fokus pada hal-hal yang membutuhkan pemahaman dan keputusan manusia. Pada akhirnya, kualitas terjemahan bukan hanya tentang seberapa cepat sebuah kata dapat diubah dari satu bahasa ke bahasa lain. Yang lebih penting adalah memastikan bahwa pesan tersebut tetap memiliki arti yang sama ketika sampai kepada pembacanya. Di situlah human expertise masih memiliki peran penting.

Pada akhirnya, teknologi dan keahlian manusia tidak harus menjadi dua hal yang saling menggantikan. Machine translation menawarkan kecepatan dan efisiensi, sementara penerjemah manusia memastikan bahwa setiap pesan tetap memiliki makna, konteks, dan kualitas yang sesuai.

Di situlah MTPE menjadi penting untuk menggabungkan kemampuan mesin dalam memproses bahasa dengan kemampuan manusia dalam memahami bahasa. Kualitas terjemahan bukan hanya tentang seberapa cepat sebuah kata dapat diubah dari satu bahasa ke bahasa lain, tetapi tentang memastikan bahwa pesan tersebut tetap memiliki arti yang sama ketika sampai kepada pembacanya.

AI memberikan kecepatan. Manusia memberikan penilaian. MTPE menyatukan keduanya