Cara Menghindari Kesalahan Umum dalam Konten Pemasaran Multibahasa
Untuk menghindari kesalahan umum dalam konten pemasaran multibahasa, sesuaikan pesan Anda alih-alih menerjemahkannya kata per kata, teliti budaya dan kebiasaan setempat sebelum menulis, jaga konsistensi terminologi dan brand voice dengan glosarium dan panduan gaya, serta minta penutur asli meninjau dan menguji konten sebelum dipublikasikan. Kesalahan yang paling sering terjadi adalah menerjemahkan terlalu harfiah, mengabaikan budaya lokal, memakai terminologi yang tidak konsisten, dan kehilangan karakter suara merek dalam prosesnya. Masing-masing dapat membuat pesan terdengar tidak alami, membingungkan, atau bahkan menyinggung, sehingga mencegahnya sejak dini melindungi hasil kampanye sekaligus reputasi merek Anda.
Ketika bisnis ingin menjangkau pelanggan di berbagai negara, konten pemasaran menjadi salah satu alat utama untuk memperkenalkan produk dan membangun hubungan dengan calon konsumen. Melalui website, media sosial, iklan, katalog, dan kampanye digital, perusahaan dapat menyampaikan nilai merek dan manfaat produk kepada audiens yang berbicara dalam bahasa berbeda. Namun, membuat konten dalam beberapa bahasa melibatkan lebih dari sekadar memindahkan kalimat dari satu bahasa ke bahasa lain. Pesan yang efektif juga harus mencerminkan kebiasaan, kebutuhan, dan sudut pandang audiens yang dituju.
Kesalahan dalam konten pemasaran multibahasa dapat membuat calon pelanggan meragukan profesionalisme sebuah merek atau memilih produk pesaing. Karena itu, perusahaan perlu memahami kesalahan umum dan cara mencegahnya sebelum konten dipublikasikan.
Apa Itu Konten Pemasaran Multibahasa?
Konten pemasaran multibahasa adalah materi promosi yang disiapkan dalam dua bahasa atau lebih untuk menjangkau kelompok audiens yang berbeda di berbagai pasar. Penerjemahan dan adaptasi konten saling melengkapi dalam proses ini. Penerjemahan menjaga informasi dari materi asli, sedangkan adaptasi memastikan pesan terasa alami bagi pembaca lokal.
Kalimat yang terdengar menarik dalam bahasa Indonesia belum tentu berdampak sama ketika diterjemahkan langsung ke bahasa lain. Karena itu, perusahaan perlu mempertimbangkan konteks dan tujuan komunikasi, bukan hanya kata-kata aslinya. Hal ini penting karena audiens mengharapkan konten dalam bahasa mereka sendiri: dalam survei tahun 2020 terhadap 8.709 konsumen di 29 negara, 76% responden mengatakan lebih suka membeli produk yang informasinya tersedia dalam bahasa mereka sendiri (CSA Research, 2020).
Apa Saja Kesalahan Paling Umum dalam Konten Pemasaran Multibahasa?
Menerjemahkan Terlalu Harfiah
Salah satu kesalahan umum adalah menerjemahkan setiap kata tanpa mempertimbangkan makna yang dimaksud. Bahasa promosi sering memakai permainan kata, humor, atau idiom yang tidak memiliki padanan langsung dalam bahasa lain. Jika diterjemahkan secara harfiah, slogan bisa terdengar janggal atau kehilangan daya bujuknya. Ajakan yang ramah dalam bahasa sumber, misalnya, bisa terdengar terlalu memaksa bagi audiens di negara lain.
Solusinya adalah memahami pesan utamanya terlebih dahulu, lalu mencari ungkapan yang menimbulkan dampak serupa dalam bahasa target.
Mengabaikan Budaya dan Kebiasaan Lokal
Setiap pasar memiliki nilai, kebiasaan, simbol, dan kepekaan yang berbeda. Warna, gambar, humor, gestur, dan pilihan kata yang tampak biasa di satu tempat dapat bermakna lain di tempat lain, dan konten yang mengabaikan perbedaan ini dapat menimbulkan kesalahpahaman. Ilustrasi atau tema kampanye tertentu, misalnya, mungkin tidak sesuai dengan norma sosial audiens target.
Sebelum mempublikasikan materi pemasaran, perusahaan sebaiknya mempelajari audiens dan latar belakang budayanya. Riset sederhana, masukan dari penutur lokal, dan tinjauan oleh orang yang mengenal pasar target dapat membantu menemukan unsur yang perlu disesuaikan.
Memakai Terminologi yang Tidak Konsisten
Istilah produk, nama fitur, dan pesan kunci harus tetap konsisten di semua saluran pemasaran. Jika fitur yang sama dijelaskan dengan istilah berbeda di website, iklan, dan katalog, pelanggan bisa mengira istilah-istilah itu merujuk pada hal yang berbeda. Perusahaan sebaiknya menyiapkan daftar istilah dan panduan gaya bahasa yang menjadi acuan bersama bagi penerjemah dan tim pemasaran.
Gagal Menjaga Brand Voice dan Identitas
Setiap merek memiliki gaya komunikasinya sendiri. Sebagian terdengar ramah dan santai, sedangkan yang lain memilih nada formal dan berwibawa. Ketika konten diadaptasi ke bahasa lain, kepribadian ini dapat berubah akibat pilihan kata atau gaya penulisan yang tidak konsisten. Untuk mencegahnya, perusahaan perlu memiliki pedoman brand voice yang jelas.
Bagaimana Kesalahan Ini Memengaruhi Bisnis?
Kesalahan dalam pemasaran multibahasa tidak berhenti pada soal tata bahasa. Pesan yang keliru dapat membuat manfaat produk sulit dipahami, membuat penawaran promosi ditafsirkan berbeda, atau membuat pelanggan merasa tidak dihargai. Jika masalah ini terjadi berulang kali, kepercayaan pelanggan bisa berkurang dan citra perusahaan rusak.
Biayanya juga bisa berupa uang. Bank swasta HSBC, misalnya, mengganti kampanye "Assume Nothing" pada 2009 sebagai bagian dari perombakan merek yang dilaporkan bernilai 10 juta dolar AS, dan sebuah laporan pada saat itu menyebutkan bahwa slogan tersebut diterjemahkan menjadi "Do Nothing" di beberapa negara (Harris, 2009). Hanya sedikit kesalahan yang semahal itu, tetapi contoh ini menunjukkan bagaimana slogan yang berhasil dalam satu bahasa dapat gagal di bahasa lain.
Dampaknya juga terlihat pada kinerja kampanye. Audiens bisa kehilangan minat mengeklik iklan, meninggalkan halaman produk, atau membatalkan pembelian karena informasinya tidak jelas. Perusahaan kemudian mungkin menanggung biaya tambahan untuk merevisi materi dan meluncurkan ulang kampanye.
Cara Menghindari Kesalahan Umum dalam Konten Pemasaran
Pertama, tentukan tujuan setiap materi pemasaran dan identifikasi audiens yang dituju. Konten yang dirancang untuk memperkenalkan produk memerlukan pendekatan berbeda dari konten yang dimaksudkan untuk mendorong pembelian. Memahami tujuan ini membantu tim memilih informasi, nada, dan ajakan bertindak yang tepat.
Kedua, lakukan riset pasar dan budaya sebelum penerjemahan dimulai. Pelajari kebiasaan konsumen, terminologi yang lazim dipakai, preferensi komunikasi, dan regulasi terkait kegiatan promosi. Jangan berasumsi bahwa semua orang yang berbicara dengan bahasa yang sama memiliki kebutuhan dan kebiasaan yang sama.
Ketiga, siapkan daftar istilah dan pedoman gaya bahasa, dan pastikan tim pemasaran, penerjemah, serta peninjau memakai acuan yang sama.
Keempat, lakukan beberapa putaran peninjauan. Periksa ketepatan makna, ejaan, angka, tautan, nama produk, dan konsistensi antara pesan tertulis dan materi visual. Setelah itu, minta penutur bahasa target menilai apakah konten terdengar alami dan mudah dipahami.
Kelima, uji konten sebelum digunakan dalam skala lebih luas. Perusahaan dapat mengumpulkan masukan dari sekelompok kecil calon pelanggan atau membandingkan beberapa versi iklan. Hasilnya dapat menunjukkan apakah judul, gambar, dan ajakan bertindak menyampaikan pesan yang dimaksud. Mengevaluasi kinerja kampanye setelahnya juga penting, karena membantu tim menemukan hal yang perlu diperbaiki pada publikasi berikutnya.
Apa Peran Penerjemahan dan Pelokalan Profesional?
Penerjemah profesional tidak sekadar mengganti kata dari satu bahasa ke bahasa lain. Mereka juga mempertimbangkan konteks, tujuan komunikasi, dan karakteristik audiens. Pelokalan, di sisi lain, menyesuaikan konten dengan kebutuhan pasar tertentu, termasuk format tanggal, mata uang, satuan ukuran, terminologi, dan unsur visual yang relevan. Kolaborasi antara penerjemah dan tim pemasaran membantu menjaga pesan tetap akurat dan menarik.
Layanan profesional juga dapat membantu perusahaan menjaga konsistensi seiring bertambahnya produksi konten. Dengan alur kerja yang teratur, pedoman terminologi, dan proses peninjauan yang terstruktur, materi di berbagai saluran dapat menyampaikan satu pesan yang konsisten.
Berkomunikasi dengan Jelas di Setiap Pasar bersama Licolize Communications
Konten pemasaran multibahasa membuka peluang menjangkau pelanggan di pasar yang lebih luas, tetapi keberhasilannya bergantung pada akurasi bahasa, pemahaman budaya, terminologi yang konsisten, dan identitas merek yang tetap utuh di semua bahasa. Perusahaan sebaiknya merencanakan proses penerjemahan dan pelokalan sejak awal, menetapkan pedoman komunikasi, dan meninjau materi sebelum dipublikasikan.
Jika bisnis Anda ingin menyampaikan pesan pemasarannya secara efektif kepada audiens di berbagai negara, Licolize Communications siap membantu dengan jasa penerjemahan dan pelokalan yang memperhatikan bahasa, konteks, dan karakteristik setiap pasar target. Hubungi Licolize Communications agar pesan merek Anda terasa lebih akrab dan relevan bagi pelanggan di seluruh dunia.
Referensi
CSA Research. (2020, July 7). Consumers Prefer their Own Language [Press release]. csa-research.com/l/media/Consumers-Prefer-their-Own-Language
Harris, S. (2009, February 10). HSBC Private Bank rebrands. WealthBriefing. wealthbriefing.com/html/article.php/hsbc-private-bank-rebrands