Licolize Communications - Mitra Penerjemahan dan Penjurubahasaan Tepercaya Anda • 4.000+ Proyek Terselesaikan | 100+ Klien Terbantu • Penerjemahan, Pelokalan, Penjurubahasaan, dan Proofreading | MTPE | Subtitling | Voice Over | LQA • Licolize Communications - Mitra Penerjemahan dan Penjurubahasaan Tepercaya Anda • 4.000+ Proyek Terselesaikan | 100+ Klien Terbantu • Penerjemahan, Pelokalan, Penjurubahasaan, dan Proofreading | MTPE | Subtitling | Voice Over | LQA •

Apa Saja Kesalahan yang Paling Umum dalam Penerjemahan Bahasa Inggris?

Apa Saja Kesalahan yang Paling Umum dalam Penerjemahan Bahasa Inggris?

Menerjemahkan teks ke dalam bahasa Inggris mungkin terlihat sederhana, terutama bagi orang yang sudah cukup memahami bahasa Inggris. Namun, kemampuan berbahasa Inggris tidak selalu berarti mampu menghasilkan terjemahan bahasa Inggris yang akurat, natural, dan sesuai konteks. Dalam proses penerjemahan, kesalahan kecil dalam memilih kata, menyusun kalimat, atau memahami konteks dapat mengubah cara sebuah pesan dipahami oleh pembaca.

Hal ini menjadi semakin penting ketika terjemahan digunakan untuk kebutuhan profesional. Website, materi pemasaran, dokumen bisnis, laporan, maupun informasi produk membawa nama dan citra sebuah perusahaan. Terjemahan yang kurang tepat dapat membuat konten terdengar kaku, membingungkan, atau bahkan menyampaikan makna yang berbeda dari teks aslinya.

Karena itu, memahami kesalahan penerjemahan bahasa Inggris dapat membantu perusahaan maupun penerjemah menghasilkan konten yang lebih akurat dan efektif. Lalu, apa saja kesalahan yang paling umum dalam penerjemahan bahasa Inggris dan bagaimana cara menghindarinya?

1. Menerjemahkan Kata demi Kata

Salah satu kesalahan yang paling umum dalam penerjemahan bahasa Inggris adalah menerjemahkan teks secara kata demi kata atau word-for-word translation. Pendekatan ini dilakukan dengan mencari padanan langsung untuk setiap kata dalam bahasa sumber tanpa menyesuaikan struktur kalimat dengan bahasa target.

Masalahnya, setiap bahasa memiliki aturan, struktur, dan cara mengekspresikan gagasan yang berbeda. Kalimat yang terdengar alami dalam bahasa Indonesia belum tentu terdengar alami jika seluruh strukturnya dipindahkan secara langsung ke bahasa Inggris.

Hasil terjemahan mungkin masih dapat dipahami, tetapi dapat terasa kaku atau tidak seperti teks yang memang ditulis untuk pembaca bahasa Inggris. Dalam konteks profesional, kondisi tersebut dapat memengaruhi kualitas komunikasi dan citra perusahaan.

Karena itu, penerjemah perlu berfokus pada makna dan tujuan pesan, bukan hanya pada kata-kata yang digunakan. Dalam beberapa kasus, sebuah kalimat perlu disusun ulang agar pesan yang sama dapat disampaikan secara natural dalam bahasa Inggris.

Terjemahan yang baik bukan berarti mempertahankan bentuk kalimat asli sebanyak mungkin. Yang lebih penting adalah memastikan bahwa pesan yang ingin disampaikan tetap sama dan dapat dipahami secara alami oleh pembaca bahasa target.

2. Mengabaikan Konteks dan Makna yang Dimaksud

Kata yang sama dapat memiliki arti berbeda tergantung pada konteks. Salah satu kesalahan dalam penerjemahan adalah memilih arti berdasarkan kamus tanpa melihat bagaimana kata tersebut digunakan dalam keseluruhan teks.

Sebuah istilah, misalnya, dapat memiliki satu arti dalam percakapan umum dan arti lain dalam konteks bisnis atau bidang tertentu. Jika penerjemah tidak memahami situasi di balik sebuah kalimat, mereka dapat memilih padanan yang secara literal benar tetapi tidak sesuai dengan maksud penulis.

Konteks juga menentukan bagaimana sebuah pesan seharusnya disampaikan. Kalimat yang dimaksudkan untuk meyakinkan pelanggan membutuhkan pendekatan yang berbeda dari kalimat dalam dokumen resmi. Begitu pula dengan materi pemasaran, dokumen teknis, dan komunikasi perusahaan yang memiliki tujuan serta karakteristik bahasa masing-masing.

Karena itu, penerjemah perlu memahami maksud yang ingin disampaikan (intended meaning). Mereka perlu mempertimbangkan kalimat secara keseluruhan, tujuan komunikasi, topik yang dibahas, serta siapa yang akan membaca teks tersebut.

Mengabaikan konteks dapat membuat terjemahan kehilangan makna sebenarnya meskipun setiap kata terlihat benar.

3. Menggunakan Tone dan Gaya Bahasa yang Tidak Sesuai

Kesalahan dalam penerjemahan tidak selalu berkaitan dengan tata bahasa atau kosakata. Tone dan gaya bahasa yang tidak sesuai juga dapat membuat sebuah terjemahan terasa kurang profesional.

Bayangkan sebuah merek ingin menyampaikan pesan pemasaran yang ramah dan menarik. Jika terjemahannya terlalu formal atau kaku, pesan tersebut dapat kehilangan daya tariknya. Sebaliknya, dokumen bisnis yang membutuhkan bahasa formal dapat terlihat kurang profesional jika diterjemahkan menggunakan gaya yang terlalu santai.

Gaya bahasa juga harus disesuaikan dengan target audiens. Bahasa untuk pelanggan umum mungkin perlu dibuat lebih sederhana dan mudah dipahami, sementara komunikasi dengan profesional atau mitra bisnis dapat membutuhkan gaya yang lebih formal dan spesifik.

Karena itu, penerjemah tidak hanya perlu memahami apa yang dikatakan dalam teks asli, tetapi juga bagaimana pesan tersebut ingin terdengar bagi pembaca.

Mempertahankan tone dan gaya bahasa yang sesuai membantu menjaga identitas, tujuan, dan karakter komunikasi dari konten asli setelah diterjemahkan.

4. Menggunakan Terminologi yang Tidak Konsisten

Konsistensi terminologi menjadi semakin penting ketika menerjemahkan dokumen dalam jumlah besar atau konten yang menggunakan istilah khusus.

Salah satu kesalahan yang umum terjadi adalah menerjemahkan istilah yang sama menggunakan beberapa padanan berbeda tanpa alasan kontekstual yang jelas. Sebuah istilah mungkin diterjemahkan dengan satu padanan di awal dokumen, kemudian menggunakan padanan lain di bagian berikutnya.

Bagi pembaca, perbedaan tersebut dapat menimbulkan pertanyaan apakah istilah yang digunakan memang merujuk pada hal yang sama atau memiliki makna yang berbeda. Masalah ini terutama penting dalam dokumen teknis, laporan, materi bisnis, maupun proyek yang terdiri dari banyak halaman.

Konsistensi membantu pembaca memahami istilah dengan lebih mudah sekaligus membuat keseluruhan konten terlihat lebih profesional. Karena itu, penerjemah perlu menerapkan manajemen terminologi (terminology management) dan memastikan bahwa istilah tertentu digunakan secara konsisten sesuai dengan konteks proyek.

Penggunaan glossary atau daftar istilah yang telah disepakati sejak awal proyek juga dapat membantu menjaga konsistensi, terutama ketika sebuah proyek dikerjakan oleh lebih dari satu penerjemah.

5. Mengabaikan Struktur Kalimat dan Kealamian Bahasa Inggris

Kesalahan lainnya adalah menganggap bahwa tata bahasa yang benar otomatis menghasilkan terjemahan yang baik.

Sebuah kalimat mungkin secara tata bahasa dapat diterima, tetapi masih terdengar tidak natural bagi pembaca bahasa Inggris. Hal ini dapat terjadi ketika struktur bahasa sumber terlalu banyak dipertahankan dalam bahasa target.

Bahasa Inggris memiliki pola kalimat, ungkapan, dan cara menyampaikan gagasan yang mungkin berbeda dengan bahasa Indonesia. Karena itu, hasil terjemahan terkadang membutuhkan adaptasi atau penulisan ulang, bukan sekadar penggantian kata.

Tujuan akhirnya adalah membuat teks terdengar seperti tulisan yang memang ditujukan kepada pembaca bahasa Inggris, bukan seperti teks asing yang baru saja diterjemahkan.

Kealamian bahasa Inggris sangat penting untuk website, konten pemasaran, profil perusahaan, dan komunikasi publik karena pembaca akan menilai konten berdasarkan seberapa jelas dan nyaman teks tersebut dibaca.

Dengan demikian, penerjemah perlu memperhatikan tidak hanya tata bahasa, tetapi juga alur tulisan, keterbacaan, struktur kalimat, dan penggunaan ungkapan yang natural.

6. Melewatkan Editing dan Proofreading

Terjemahan yang sudah selesai ditulis belum tentu siap langsung dipublikasikan. Kesalahan kecil seperti salah ketik, tanda baca, tata bahasa, atau penggunaan istilah yang tidak konsisten masih dapat muncul dalam draft akhir.

Di sinilah editing dan proofreading memiliki peran penting.

Editing membantu memperbaiki struktur kalimat, pilihan kata, gaya bahasa, dan keterbacaan secara keseluruhan. Sementara itu, proofreading berfokus pada pemeriksaan akhir untuk menemukan kesalahan yang mungkin masih tertinggal setelah proses editing.

Untuk proyek tertentu, proses quality assurance juga dapat membantu memastikan bahwa hasil akhir memenuhi standar dan kebutuhan yang telah ditentukan.

Tanpa tahap pemeriksaan, kesalahan kecil dapat tetap masuk ke versi final dan dilihat oleh pelanggan, mitra bisnis, atau pihak lain. Hal ini dapat menjadi masalah terutama ketika konten digunakan untuk kebutuhan profesional.

Karena itu, proses penerjemahan sebaiknya tidak berhenti ketika draft pertama selesai. Pemeriksaan akhir merupakan bagian penting untuk membantu menjaga akurasi, konsistensi, keterbacaan, dan kualitas terjemahan.

7. Terlalu Bergantung pada Machine Translation

Teknologi penerjemahan dapat membantu mempercepat proses dan memberikan titik awal untuk berbagai jenis konten. Namun, mengandalkan hasil machine translation secara langsung tanpa pemeriksaan yang sesuai dapat menimbulkan masalah.

Sistem otomatis dapat menghasilkan terjemahan yang secara umum mudah dipahami, tetapi masih dapat mengalami kesalahan dalam konteks, terminologi, gaya bahasa, atau kealamian. Risiko tersebut menjadi lebih penting ketika konten digunakan untuk kebutuhan profesional atau mengandung istilah khusus.

Untuk proyek tertentu, perusahaan dapat menggunakan pendekatan Machine Translation Post-Editing (MTPE), yaitu hasil terjemahan mesin diperiksa dan diperbaiki oleh profesional bahasa. Pendekatan ini memungkinkan perusahaan memanfaatkan efisiensi teknologi sekaligus melakukan pengendalian kualitas terhadap hasil terjemahan.

Namun, tingkat keterlibatan manusia tetap perlu disesuaikan dengan jenis konten, tujuan penerjemahan, tingkat kompleksitas, serta kualitas yang diharapkan.

Dengan kata lain, teknologi dapat menjadi alat pendukung yang berguna dalam proses penerjemahan, tetapi penggunaannya tetap membutuhkan strategi dan pengendalian kualitas yang tepat.

Kesimpulan

Penerjemahan bahasa Inggris bukan sekadar proses mengganti kata dari satu bahasa ke bahasa lainnya. Banyak kesalahan dapat terjadi ketika penerjemah terlalu bergantung pada terjemahan literal, mengabaikan konteks, menggunakan gaya bahasa yang tidak sesuai, tidak menjaga konsistensi terminologi, atau melewatkan proses editing dan proofreading.

Terjemahan yang berkualitas membutuhkan perhatian terhadap makna, konteks, tone, struktur kalimat, terminologi, konsistensi, dan keterbacaan. Untuk konten profesional, aspek-aspek tersebut menjadi semakin penting karena hasil terjemahan dapat secara langsung memengaruhi cara sebuah merek, produk, layanan, atau informasi dipahami oleh audiens.

Dengan memahami berbagai kesalahan penerjemahan bahasa Inggris tersebut, perusahaan dapat lebih cermat dalam mengevaluasi hasil terjemahan dan menentukan pendekatan yang paling sesuai untuk setiap proyek. Untuk konten yang membutuhkan akurasi, konsistensi, dan kualitas bahasa yang tinggi, dukungan dari jasa penerjemahan profesional dapat menjadi pilihan yang tepat.

Butuh Jasa Penerjemahan Bahasa Inggris yang Akurat dan Natural?

Baik untuk dokumen bisnis, konten website, materi pemasaran, profil perusahaan, maupun kebutuhan profesional lainnya, pendekatan penerjemahan yang tepat dapat membantu memastikan pesan tersampaikan secara jelas, natural, dan sesuai dengan konteks.

Licolize Communications menyediakan berbagai layanan bahasa untuk membantu memenuhi kebutuhan komunikasi profesional, termasuk Translation, Editing & Proofreading (TEP), Machine Translation Post-Editing (MTPE), Localization, Transcription, Subtitling, Voice Over, dan Linguistic Quality Assurance (LQA).

Hubungi Licolize Communications untuk mendiskusikan kebutuhan penerjemahan Anda dan menemukan solusi bahasa yang tepat untuk proyek Anda.